Siapa yang paling berhak atas seorang suami dan siapa yang paling berhak atas seorang istri ?
Alhamdulillaah…..
Segala
Puji bagi Allah Tuhan Seru sekalian alam.Tuhan Yang Maha Rahman.Maha
Rahim.. Shalawat serta salam senantiasa tercurah untuk kekasih
Allah,Muhammad Rasulullah Shallahu 'alaihi wassalam.Allahumma Shalli wa
Salim Ala Sayyidina Muhammadin wa Ala aali Sayyidina Muhammadin fi Kulli
Lam Hatin wa na Fasinn bi'adadi Kulli Ma'lu Mil Lak.
`*•Yaa
Rabbi•*´¯)Ajarilah kami bagaimana memberi sebelum meminta,berfikir
sebelum bertindak,santun dalam berbicara,tenang ketika gundah,diam
ketika emosi melanda,bersabar dalam setiap ujian.Jadikanlah kami orang
yg selembut Abu Bakar Ash-Shiddiq,sebijaksana Umar bin
Khattab,sedermawan Utsman bin Affan,sepintar Ali bin Abi
Thalib,sesederhana Bilal,setegar Khalid bin Walid
radliallahu'anhumღAmiin ya Rabbal'alamin.
Seorang
laki-laki telah datang kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam
dan berkata: ‘Wahai Rasulullah, siapakah yang paling berhak aku hormati
dengan baik?’, Beliau bersabda, ‘ibumu’, laki-laki itu bertanya lagi:
‘kemudian siapa?’, Beliau menjawab, ‘ibumu’, laki-laki itu kembali
bertanya: ‘kemudian siapa?’, Beliau menjawab, ‘ibumu’, laki-laki itu
bertanya kembali: ‘kemudian siapa?’, Beliau menjawab, ‘ayahmu’ ~
Siapa
yang tidak mengenal hadits in,kisah tentang kedudukan seorang perempuan
yang telah mengandung, melahirkan, menyusui, menyapih serta bertanggung
jawab atas segala urusan dan pendidikan anak-anaknya lebih banyak.
ya,
perempuan itu menjelma menjadi sosok seorang Ibu, yang menjadi madrasah
pertama bagi anak-anaknya.Bersama suaminya, yang menjelma menjadi ayah,
mereka menjadi partner membesarkan putra putri mereka, bahu membahu
sesuai proporsinya.
Tugas
sang suami sekaligus ayah demikian berat, dia bertanggungjawab atas
istri dan anak-anaknya. Tak hanya menafkahi tapi dia juga memikul
tanggungjawab atas sikap langkah istri dan anak-anaknya. Dia lah yang
akan mengantar mereka menuju pintu surga atau neraka !!
Apa
kesalahan yang dilakukan sang istri, terbeban dosanya kepada sang
suami. Apa yang dilakukan putra-putrinya, pun terbeban dosanya kepada
sang ayah. Dia yang ditanyai Allah karena kepemimpinannya terhadap istri
dan anak-anaknya. Tugas ini terus terbeban hingga putra putri mereka
MENIKAH.
Bagi
anak laki-laki saat dia menikah, berarti dia mengambil alih seluruh
tanggungjawab orangtua si perempuan yang akan dinikahinya.
Bagi
anak perempuan,saat dia menikah,berarti dia menyerahkan dirinya sebagai
orang yang siap dipimpin oleh lelaki yang akan menjadi suaminya. Pada
keduanya, ada pesan tersirat, sang laki-laki harus memantaskan diri,
memiliki kecakapan untuk menjadi seorang yang siap memimpin dan
bertanggungjawab di hadapan Khaliknya. Sementara sang perempuan, harus
“berhitung” kepada siapa dia akan menyerahkan dirinya untuk dipimpin.
Setelah
menikah, anak lelaki adalah tetap anak dari kedua orangtuanya. Orangtua
si anak lelaki berhak atas anaknya. Bagi anak lelaki yang telah
menikah, saat orangtuanya membutuhkan bantuan maka yang pertama kali
harus dibantu adalah ibunya, setelah itu bapaknya, dan setelah itu baru
anak dan istrinya.
Sementara
bagi anak perempuan, setelah menikah, ia sepenuhnya menjadi hak
suaminya. Orangtua si anak perempuan tidak lagi berhak atas anaknya.
Karenanya bagi anak perempuan saat orangtuanya membutuhkan bantuannya,
dia tak wajib menaati orangtuanya. Dia punya tanggungjawab menjaga harta
dan kehormatan suaminya. Dia harus terlebih dahulu meminta ijin
suaminya.
jika
ini dilakukan,tak hanya sang istri yang mendapat pahala kebaikan dari
suaminya,tapi juga orang tua sang istri mendapat kebaikan karena tidak
mengambil sesuatu yang bukan lagi haknya (yakni anak perempuannya).
Istri yang baik adalah istri yang memuliakan suaminya,di atas yang
lainnya,dan suami yang baik adalah suami yang memuliakan ibu
kandungnya,di atas yang lainnya.
“apabila
seorang wanita menjaga shalat lima waktu, berpuasa pada bulannya,
menjaga kehormatannya dan mentaati suaminya niscaya dia akan masuk surga
DARI PINTU MANA SAJA yang dia inginkan.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban)
Ketaatan
kepada orangtua bagi seorang istri, tidak boleh berada di atas
ketaatannya kepada suami. Kunci surga bagi seorang perempuan menikah,
tak lagi ada pada orangtuanya, tapi sudah berpindah kepada suaminya.
Rasulullah
saw dalam hadis yang diriwayatkan Saidatina Aisyah: “ aku pernah
bertanya kepada Baginda, “siapakah orang yang paling berhak atas seorang
istri?” baginda menjawab: “orang yang paling berhak kepada istri ialah
suaminya.” kemudian aku bertanya lagi, “dan siapakah orang yang paling
berhak atas seorang suami?” baginda menjawab: “orang yang paling berhak
atas seorang suami ialah ibu kandungnya.” (Hadis riwayat Bazar dan
al-Hakim)
Syurga seorang anak lelaki adalah di bawah tapak kaki ibu, tetapi syurga bagi seorang istri ialah di bawah tapak kaki suaminya.
Bahkan
Rasulullah saw pernah bersabda “sekiranya aku dibenarkan untuk
memerintahkan seseorang bersujud kepada orang lain, niscaya aku
perintahkan seorang istri bersujud kepada suaminya.” (hadis riwayat
Tirmidzi dan Ibnu Hibban)
Imam
Ahmad dan al-Hakim meriwayatkan dari al-Husain bin Mihshan bahwa
bibinya datang kepada Nabi saw untuk suatu keperluan. setelah dia
selesai dari keperluannya, Nabi saw bertanya kepada bibi al-Husain,
“apakah kamu bersuami?” dia menjawab, “ya.” Rasulullah bertanya,
“bagaimana dirimu terhadapnya?” dia menjawab, “saya tidak melalaikannya
kecuali jika saya tidak mampu.” maka Rasulullah saw bersabda, “lihatlah
dirimu daripadanya, karena dia adalah surga dan nerakamu.”
Maka,
jangan tanya orang tentang baik buruknya seorang muslimah, tapi
tanyakan kepada suami mereka masing-masing, bagaimana sikapnya terhadap
suami mereka. Allahu ‘alam.
♥ SEMOGA BERMANFAAT ♥
Sebuah renungan untukku, untukmu, untuk kita semua. Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati yang terkunci.
Hak
cipta adalah milik Allah SWT semata.Ilmu adalah amanat Allah yg harus
disampaikan kepada Ummah...kami hanya menyampaikan apa yg kami miliki..
Sungguh
bahagia insan yang telah menemukan cinta sejatinya.. ibarat tasbih
& benang pengikatnya.. terajut menjadi satu untaian yang selalu
disentuh satu demi satu oleh insan mulia yang bibirnya basah akan cinta
kepada Rabb-Nya
Barakallaahu fiykum wa jazzakumullah khoir
(Sebelum Engkau Jadi Kekasih Halalku)
♥SALAM SANTUN UKHUWAH♥
Semoga apa yang telah disampaikan ini ada manfaatnya,
Afwan
Minkum Kebenaran datangnya dari Allah kekurangan dari pribadi akhwatul
iman dan ana hanya menyampaikan apa yang diamanahkan Allah
Wallahù'alam bíshawab Wabíllahí taùfík walhídayah,
Wassalamù'alaíkùm warahmatùllahí wabarakatùh

Tidak ada komentar:
Posting Komentar